Sabtu, 16 April 2011

Belajar Menulis

Seperti bayi yang sedang belajar merangkak dan berjalan, demikian halnya aku sedang belajar bagaimana menulis.
Aku tak pandai menulis.
Ayahku seorang yang gemar menulis, sampai-sampai setiap moment penting dalam hidupnya dituangkannya dalam sebuah tulisan sebagai dokumentasi pribadi yang sesekali dibukanya kembali. Tapi, sepertinya beliau mewariskan keahliannya pada adik perempuanku.
Orang-orang terdekatku tak sedikit yang menilai tulisanku sedikit aneh.
Dosenkupun membuktikannya pada saat aku menulis untuk tugas akhir dengan banyak coretan revisi dan kritikan.


Aku pernah mencoba menulis dalam sebuah jurnal pribadi berwarna putih beberapa tahun yang lalu.
Ada seseorang yang mendorongku untuk belajar mengungkapkan isi hati pada sebuah coretan, entah berupa tulisan atau sekedar sketsa gambar. Yang penting ungkapan isi hati.
Pada saat itu, aku memberikan jurnal pribadiku sebagai hadiah ulang tahun orang tersebut.
Tak disangka dia begitu terkesan dengan jurnalku.
Tapi, entah mengapa aku menjadi malas untuk melanjutkannya.
Mungkin karena sudah tidak ada tujuan khusus lagi.


Lucu memang, jika dipikir.
Umur hampir seperempat abad dan telah melewati tugas akhir yang memaksaku untuk banyak menulis, tapi masih saja aku tak pandai merangkai kata-kata menjadi suatu tulisan yang indah.
Kadang, aku merasa iri pada orang-orang yang begitu mudahnya menulis suatu tulisan dan begitu indah saat membacanya.
Tak jarang, papan keyboardpun akhirnya menjadi "momok" tersendiri bagiku.

Ketika tulisan tugas akhirku selesai, sebenarnya aku berpikir mengenai adanya dua kemungkinan terbesar yang akan terjadi pada diriku.
Yang pertama, aku akan berhenti dan tak mau lagi menyentuh papan keyboard untuk sekedar mencoba menulis sesuatu.
Yang kedua, aku justru akan merasa tertantang untuk mencoba menulis sesuatu.

Dan..eng-ing-eng...sepertinya dengan adanya blog ini, membuktikan bahwa papan keyboard bukan lagi sebuah "momok" bagiku. Kemungkinan pertama di ataspun, tidak terbukti benar adanya.
Terima kasih pada seseorang yang dulu pernah mendorongku untuk menulis.
Aku akan terus mencoba belajar menulis sesuatu, dimulai dengan ungkapan isi hati (lagi).

Gud luck to me! ^_^

1 komentar:

  1. tanpa disadari kau sudah cukup banyak menulis di hidupmu...

    BalasHapus